Selasa, 02 Oktober 2012
Senin, 01 Oktober 2012
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER ( INFARK MYOCARD )
ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
PENYAKIT
JANTUNG KORONER ( INFARK MYOCARD )
- KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Infark Myokard Akut (IMA) adalah suatu keadaan nekrosis miokard sebagai
akibat aliran darah ke otot jantung terganggu (Hudack & Galo 1996).
Infark Miokard Akut adalah kematian
jaringan miokard diakibatkan oleh kerusakan aliran darah koroner miokard
(penyempitan atau sumbatan arteri koroner diakibatkan oleh aterosklerosis atau
penurunan aliran darah atau oksigen).
Masalah mendasar yang disebabkan oleh
aterosklerosis pembuluh darah arteri koroner adalah ketidakseimbangan antara
penyediaan dan kebutuhan oksigen.
2. Etiologi
a)
Arterosklerosis
Plak aterosklerotik dapat menyebabkan suatu bekuan darah
setempat atau trombus dan akan menyumbat arteria.
Trombus dimulai pada tempat plak aterosklerotik yang telah
tumbuh sedemikian besar sehingga telah memecah lapisan intima, sehingga
langsung bersentuhan dengan aliran darah. Karena plak tersebut menimbulkan
permukaan yang tidak halus bagi darah, trombosit mulai melekat, fibrin mulai
menumpuk dan sel-sel darah terjaring dan menyumbat pembuluh tersebut. Kadang
bekuan tersebut terlepas dari tempat melekatnya (pada plak aterosklerotik) dan
mengalir ke cabang arteria koronaria yang lebih perifer pada arteri yang sama.
b)
Hiperlipidemia
Kolesterol dalam jumlah banyak berangsur menumpuk di bawah
lapisan intima arteri. Kemudian daerah ini dimasuki oleh jaringan fibrosa dan
sering mengalami kalsifikasi. Selanjutnya akan timbul “plak aterosklerotik” dan
akan menonjol ke dalam pembuluh darah dan menghalangi sebagian atau seluruh
aliran darah.
c)
Obstruksi dari embolus atau
trombus.
d)
Berkurangnya suplay oksigen ke miokard.
3. Faktor Resiko
a)
Usia..
Pada usia 40 hingga 60 tahun,
insiden infark miokard meningkat lima kali lipat.
b)
Jenis kelamin.
Secara keseluruhan, resiko
aterosklerosis koroner lebih besar pada laki – laki daripada perempuan.
Perempuan lebih kebal terhadap penyakit ini sampai usia setelah menopause dan
kemudian menjadi sama rentannya seperti pada laki-laki. Efek perlindungan estrogen
dianggap menjelaskan adanya imunitas wanita pada usia sebelum menopause, tetapi
pada kedua jenis kelamin dalam usia 60 hingga 70 an, frekuensi infark myocard
menjadi setara.
c)
Riwayat keluarga atas penyakit
jantung koroner.
Saudara laki-laki atau orang tua
yang menderita penyakit jantung sebelum usia 50 tahun meningkatkan kemungkinan
timbulnya atreoskelrosis prematur. Keturunan dari seorang penderita penyakit
jantung koroner prematur diketahui menyebabkan perubahan dalam penanda
ateroskerosis awal, missal reaktivitas arteria brakialis dan peningkatan tunika
intima arteri karotis dan penebalan tunika media.
d)
Terlalu banyak merokok ( sigaret ).
e)
Obesitas
f)
Mempunyai kolesterol serum tinggi (
diatas 200 mg/dl )
g)
Cara hidup tidak aktif ( kurang
olahraga)
h)
Hypertensi
i)
DM
j)
Hiperhomosisteinemia
4. Diagnosa IMA menurut WHO ( 1997 )
Apabila memenuhi dua dari tiga kriteria :
1). Adanya riwayat nyeri dada yang
khas.yaitu :
a. Lokasi nyeri dada dibagian dada depan (
bawah sternum ) dengan/tanpa penjalaran , kadang berupa nyeri dagu, leher atau
seperti sakit gigi, penderita tidak bisa menunjuk lokasi nyeri dengan satu
jari, tetapi ditunjukan dengan telapak tangan.
b. Kwalitas nyeri, rasa berat seperti
ditekan atau rasa panas seperti
terbakar.
c. Lama nyeri bisa lebih dari 15 detik sampai
30 menit.
d.
Penjalaran bisa kedagu, leher,
lengan kiri, punggung dan epigastrium.
e.
Kadang disertai gejala penyerta
berupa keringat dingin, mula, berdebar
atau
sesak.
f.
Sering didapatkan faktor pencetus
berupa aktiovitas fisik, emosi/stress atau
dingin.
g. Nyeri kadang hilang
dengan istirahat atau dengan pemberian nitroglyserin sublingual.
2.) Adanya perubahan
EKG. Berupa :
a.
Gelombang Q ( significant infark )
b.
Segmen ST ( elevasi )
c.
Gelombang T ( meninggi atau
menurun )
d.
Infark: ST. segmen dan gelombang T
dapat kembali normal, perubahan gelombang Q tetap ada ( Q Patologi )
3.) Kenaikan Enzim
otot Jantung.
5. Komplikasi
a.
Gagal jantung kongestif
b.
Shock kardiogenik
c.
Tromboembolisme
d.
Perikarditis
e.
Disritmia
f.
Defek
septum ventrikel.
g.
Ruptur
jantung.
h.
Aneurisma
Ventrikel.
i.
Sindrom
Dressler.
6. Pemeriksaan & diagnostik
a.
CPK.MB meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam,
kembali normal dalam 36-48 jam.
b.
LDH meningkat dalam 12-24 jam,
memuncak dalam 24-28 jam untuk kembali normal memerlukan waktu yang lama.
c.
Leukosit 10.000-20.000
d.
Troponin T. yaitu suatu kompleks
protein yang terdapat pada filamen tipis otot jantung .Troponin T. akan
terdeteksi dalam darah beberapa jam sampai 14 hari setelah nekrosis miokard.
e.
Cholesterol dan triglicerid
meningkat
f.
EKG : ST depresi atau T inversi
g.
Thorax foto : mungkin normal atau
jantung membesar
h.
Echocardiogram
i.
Exercise stress test
j.
Coronair Angiografi
7. Penatalaksanaan
a)
Oksigen
b)
Bedrest
c)
Pemasangan IV line untuk
memudahkan pemberian obat dan nutrisi.
d)
Antikoagulan (untuk mencegah
pembekuan baru ).
e)
Nitrat (untuk mempertahankan
vasodilatasi mengurangi afterload dan preload.
f)
Agen penghambat saluran kalsium
( untuk meningkat vasodilatasi dan
mengurangi kontraksi miokard )
g)
Penyekat beta adrenergik ( untuk
mengurangi kontraktilitas miokard )
h)
Trombolitik
i)
Angioplasti primer
8. Rehabilitasi
Tujuan : untuk memulihkan kondisi fisik, mental, sosial serta
vokasional seseorang seoptimal mungkin ( setelah mendapat serangan jantung )
sehingga di capai kemampuan diri sendiri untuk menjalankan aktivitas di rumah
maupun pekerjaan ( lingkungan ).
Terdiri dari :
a. Fase I : Diberikan pada klien yang
masih dalam perawatan di rumah sakit.
Lama
: 7 – 14 hari
b. fase II : Program lanjutan yang
pelaksanaannya dilakukan sesegera mungkin setelah klien pulang ke rumah.
Lama
latihan : 6-8 minggu dilaksanakan 3X per minggu selama 1 jam
c. Fase III : Merupakan program
rehabilitasi jangka panjang dan dilaksanakan setelah klien menyelesaikan fase
II.
Lama
: 1-3 bulan
HENTI JANTUNG
HENTI
JANTUNG
A. Pengertian
Henti jantung adalah penghentian
tiba-tiba aktivitas pompa jantung efektif, mengakibatkan penghentian sirkulasi.
Ada 2 tipe
henti jantung, yaitu:
- Cardiac
standstill (Asistole)
- Fibrilasi
ventrikel
B. Tanda dan
Gejala
1. Ketidaksadaran
à
sering terjadi sebagai kolaps yang tiba-tiba.
2. Tidak ada
denyut nadi yang teraba à rasakan baik untuk denyut karotis/ femoral
3. Apnea/
gerakan nafas tidak efektif (henti nafas)
4. Pupil
dilatasi/ setelah 40 detik paska kolaps, pupil dilatasi. Pupil dilatasi
maksimal menandakan sudah terjadi 50% kerusakan otak irreversible.
5. Kulit
keabuan/ putih/ sianosis (biru).
Tanda-tanda di atas menunjukkan
pasien mati secara klinis. Jika ventilasi dan sirkulasi tidak dimulai dalam
waktu 3 menit, kematian biologis (kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki
lagi) akan terjadi.
C. Etiologi
1. Infark
miokard akut
Karena fibrilasi ventrikel, cardiac
standstill, aritmia lain, renjatan dan edema paru.
2. Emboli paru
Karena penyumbatan aliran darah paru
3. Aneurisma
disekans
Karena kehilangan darah
intravaskuler.
4. Hipoksia,
asidosis
Karena gagal jantung/ kegagalan paru
berat, tenggelam, aspirasi, penyumbatan trakea, pneumothoraks, kelebihan dosis
obat, kelainan susunan syaraf pusat.
5. Gagal ginjal
Karena hiperkalemia
E.
Penatalaksanaan
1. RJP
(Resusitasi Jantung Paru)
Adalah suatu tindakan darurat,
sebagai usaha untuk mengembalikan keadaan henti nafas/ henti jantung atau (yang
dikenal dengan istilah kematian klinis) ke fungsi optimal, guna mencegah kematian
biologis.
a.
kontraindikasi
orang yang diketahui berpenyakit
terminal dan yang telah secara klinis mati lebih dari 5 menit.
b. tahap-tahap
resusitasi
Resusitasi jantung paru pada
dasarnya dibagi dalam 3 tahap dan pada setiap tahap dilakukan tindakan-tindakan
pokok yang disusun menurut abjad:
1. Pertolongan
dasar (basic life support)
- Airway
control, yaitu membebaskan jalan nafas agar tetap terbuka dan bersih.
- Breathing
support, yaitu mempertahankan ventilasi dan oksigenasi paru secara adekuat.
- Circulation support, yaitu mempertahankan sirkulasi
darah dengan cara memijat jantung.
2. Pertolongan lanjut (advanced life support)
- Drug & fluid, yaitu pemberian obat-obat dan
cairan
- Elektrocardiography, yaitu penentuan irama jantung
- Fibrillation treatment, yaitu mengatasi fibrilasi
ventrikel
3. pertolongan jangka panjang (prolonged life support)
- Gauging, yaitu memantau dan mengevaluasi resusitasi
jantung paru, pemeriksaan dan penentuan penyebab dasar serta penilaian dapat
tidaknya penderita diselamatkan dan diteruskan pengobatannya.
- Human mentation, yaitu penentuan kerusakan otak dan
resusitasi cerebral.
- Intensive care, yaitu perawatan intensif jangka
panjang.
Langganan:
Komentar (Atom)
.svg.png)
